Kasus memilukan terjadi di Malang. Diduga tak kuat menanggung beban rumah tangganya, seseorang ibu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, Sabtu (10/3) malam. Korban bunuh diri ini baru ditemukan warga pada Minggu (11/3) siang. Dugaan bunuh diri itu karena ditemukan potas dan pil, tak jauh dari mayat korban ditemukan tergeletak di tempat tidur kamar rumahnya. Sebelum bunuh diri menenggak racun, ibu itu terlebih dulu memberi minum racun pada nak-anaknya. Itu terpaksa dilakukan karena tak kuat menahan beban hidup yang dipikul selama ini. Masalahnya, rumah tangga Mercy dan suaminya, sudah lama tak harmonis. Karena suaminya selama ini jarang pulang dan lebih banyak berada di luar kota, untuk mengurusi bisnis motor gede (moge), yang jadi hobinya. Sebelum itu, terjadi peristiwa bunuh diri seorang polisi dan polisi yang kalap membunuh keluarganya yang akhirnya bunuh diri. Menurut ilmu sosiologi, ada tiga penyebab bunuh diri dalam masyarakat, yaitu egoistic suicide (bunuh diri karena urusan pribadi), altruistic suicide (bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain), dan anomic suicide (bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan). Melihat tiga penyebab itu, jelas bahwa banyaknya kasus yang mengimpit di masyarakat kita, sudah pada taraf yang mengkhawatirkan. Masyarakat menjadi bingung untuk mencari jalan keluar lalu nekat bunuh diri sebagai penyelesaian. Kalau terjadi anomic suicide, berarti warga sudah bingung. Orang miskin berharap mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan cara legal. Mereka mau berusaha apa saja asal bisa makan dan membiayai keluarganya. Tetapi, meskipun mereka mempunyai kemampuan dan tidak malas untuk berusaha, tidak ada pintu kesempatan yang terbuka. Mau kredit untuk buka usaha tidak bisa, mau berjualan di pinggir jalan selalu diuber-uber pemerintah, sementara tuntunan hidup tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ada banyak tipe manusia dalam mempertahankan hidupnya, yaitu tipe pemberontak, inovatif, konformitas, dan retreatisme. Bagi yang berjiwa pemberontak, akan mengambil jalan pintas mencari makan mesti ilegal. Bagi tipe inovatif, dia akan selalu mencari alternatif lain untuk mencari makan. Dari berbagai tipe itu yang paling tenang adalah orang yang konformitas, yaitu pasrah dengan keadaan. Mereka menjalani hidup ini apa adanya. Sementara orang dengan tipe retreatisme (mundur) akan terpicu untuk bunuh diri akibat impitan ekonomi maupun tekanan lainnya. Khusus bagi masyarakat kecil, tidak selamanya masyarakat yang inovatif ini bisa terus bertahan jika pemerintah selalu menutup kesempatan mereka. Sudah capai mengumpulkan modal untuk berdagang, tahu-tahu digusur. Mencoba mendapatkan kredit untuk mencari usaha yang dianggap legal untuk pemerintah sangat sulit. Kesenjangan memperparah kondisi masyarakat kecil ini. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin memang terjadi di mana-mana. Bukan hanya di Indonesia. Tetapi kesenjangan akan membuat orang menjadi frustasi kalau disertai ketidakadilan. Memang tidak ada kaitan langsung antara kesulitan ekonomi dengan peristiwa bunuh diri di Malang. Namun melihat makin banyaknya orang bunuh diri, maka masalah ekonmi mau tidak mau punya andil, karena itu, pemerintah dalam merancang pembangunan haruslah memperhatikan rakyat kecil dan memberi kesempatan mereka.
1 komentar:
Cerminan Masyarakat Bingung
Kasus memilukan terjadi di Malang. Diduga tak kuat menanggung beban rumah tangganya, seseorang ibu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, Sabtu (10/3) malam. Korban bunuh diri ini baru ditemukan warga pada Minggu (11/3) siang. Dugaan bunuh diri itu karena ditemukan potas dan pil, tak jauh dari mayat korban ditemukan tergeletak di tempat tidur kamar rumahnya.
Sebelum bunuh diri menenggak racun, ibu itu terlebih dulu memberi minum racun pada nak-anaknya. Itu terpaksa dilakukan karena tak kuat menahan beban hidup yang dipikul selama ini. Masalahnya, rumah tangga Mercy dan suaminya, sudah lama tak harmonis. Karena suaminya selama ini jarang pulang dan lebih banyak berada di luar kota, untuk mengurusi bisnis motor gede (moge), yang jadi hobinya.
Sebelum itu, terjadi peristiwa bunuh diri seorang polisi dan polisi yang kalap membunuh keluarganya yang akhirnya bunuh diri.
Menurut ilmu sosiologi, ada tiga penyebab bunuh diri dalam masyarakat, yaitu egoistic suicide (bunuh diri karena urusan pribadi), altruistic suicide (bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain), dan anomic suicide (bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan). Melihat tiga penyebab itu, jelas bahwa banyaknya kasus yang mengimpit di masyarakat kita, sudah pada taraf yang mengkhawatirkan.
Masyarakat menjadi bingung untuk mencari jalan keluar lalu nekat bunuh diri sebagai penyelesaian.
Kalau terjadi anomic suicide, berarti warga sudah bingung. Orang miskin berharap mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan cara legal. Mereka mau berusaha apa saja asal bisa makan dan membiayai keluarganya. Tetapi, meskipun mereka mempunyai kemampuan dan tidak malas untuk berusaha, tidak ada pintu kesempatan yang terbuka. Mau kredit untuk buka usaha tidak bisa, mau berjualan di pinggir jalan selalu diuber-uber pemerintah, sementara tuntunan hidup tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Ada banyak tipe manusia dalam mempertahankan hidupnya, yaitu tipe pemberontak, inovatif, konformitas, dan retreatisme. Bagi yang berjiwa pemberontak, akan mengambil jalan pintas mencari makan mesti ilegal. Bagi tipe inovatif, dia akan selalu mencari alternatif lain untuk mencari makan. Dari berbagai tipe itu yang paling tenang adalah orang yang konformitas, yaitu pasrah dengan keadaan. Mereka menjalani hidup ini apa adanya. Sementara orang dengan tipe retreatisme (mundur) akan terpicu untuk bunuh diri akibat impitan ekonomi maupun tekanan lainnya.
Khusus bagi masyarakat kecil, tidak selamanya masyarakat yang inovatif ini bisa terus bertahan jika pemerintah selalu menutup kesempatan mereka. Sudah capai mengumpulkan modal untuk berdagang, tahu-tahu digusur. Mencoba mendapatkan kredit untuk mencari usaha yang dianggap legal untuk pemerintah sangat sulit.
Kesenjangan memperparah kondisi masyarakat kecil ini. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin memang terjadi di mana-mana. Bukan hanya di Indonesia. Tetapi kesenjangan akan membuat orang menjadi frustasi kalau disertai ketidakadilan.
Memang tidak ada kaitan langsung antara kesulitan ekonomi dengan peristiwa bunuh diri di Malang. Namun melihat makin banyaknya orang bunuh diri, maka masalah ekonmi mau tidak mau punya andil, karena itu, pemerintah dalam merancang pembangunan haruslah memperhatikan rakyat kecil dan memberi kesempatan mereka.
Posting Komentar